Kecamatan Teon Nila Serua
Kabupaten Maluku Tengah
Provinsi Maluku
Selamat Datang Di WebSite Desa Trana | Kami Membuka Pelayana Di Kantor Desa Trana Pada Hari Senin - Sabtu Pukul 08:00 - 15:00 WIT

Negeri Trana (Pulau Serua) adalah berasal dari sebidang tanah yang berpindah tempat dari Pulau Dai, ribuan tahun silam. Asal kata Pulau Serua adalah MESA RUA yang artinya Pulau kedua setelah Pulau Dai. Di Pulau Dai terdapat sebuah kampung bernama LEWA. Di kampung ini ada seorang lelaki bernama RETEUW yang mempunyai dua istri. Istri pertama adalah WONMALY nama istri kedua tidak disebut dalam sejarah.
Adapun pekerjaan lelaki tersebut adalah membuat arumbai serta bubu alat penangkap ikan tradisional. NAMLOI adalah dusun atau tempat dimana RETEUW mengerjakan arumbai itu. Tiap hari RETEUW bersama istrinya yang kedua ke hutan untuk membuat arumbai serta ke laut untuk mengambil ikan di bubu yang berada di dalam laut. Dari hasil tangkapan ikan tadi, hasilnya dibagi untuk kedua istrinya. Ikan yang baik di berikan kepada istri yang kedua sementara yang tidak baik diberikan kepada istri yang pertama (WONMALY). Hal semacam ini terjadi terus menerus bagi WONMALY sehinggga ia merasa marah dan bermaksud meninggalkan RETEUW suaminya bersama istri yang kedua.
Terjadi perpecahan dalam rumah tangga itu, WONMALY mengambil sepanggal papan arumbai serta garam satu bising, garam yang di ambil kemudian ditaburinya di tanah dengan niat untuk memindahkan tanah tersebut. Kemudian WONMALY berdoa kepada ALLAH ditancapnya papan itu ke tanah dan seketika itu juga tanah tersebut dengan menyanyikan sebuah lagu “ U pe Reteuw memye Wonmaly O mkiwi nale dayera wutu pepep yo Lo ye sapar sapar oo”.
Terbukti sangat jelas bahwa, Wonmaly pada saat berpindah dari Pulau Dai membawa sebuah gading dan mas yang berbentuk manusia semetara bertolak belakang, sebidang tanah yang pada akhirnya terbentuklah Pulau Serua.Wonmaly berlayar dengan tanah (Pulau) yang di cungkilnya di Pulau Dai melewati Pulau Nila, kemudian WONMALY mengambil abu tunggu yang dibawahnya dan melemparkanya ke laut, dengan maksud akan menempatkan tanah di situ, namun rencana itu gagal dengan terdengarnya suara teguran dari Pulau Nila bahwa jangan menghalangi anak cucuya dalam pelayaran, kemudian tempat itu dinamakan Mattetna.
WONMALY berlayar terus lalu terdengar suara yang menanyakan apakah nenek haus atau tidak, sementara WONMALY berlayar terus dan sampai ia merasa haus, tetapi terdengar suara yang mengatakan bahwa air telah berda di bawah tanah. Ini membuktikan bahwa di Pulau Serua tidak terdapat sumber mata air. WONMALY berpindah terus kemudian mendudukan tempat yang dinamaniya Pulau Serua.
Pada saat WONMALY bercerai dari suaminya RETEUW dan berlayar dengan Pulaunya ia dalam keadaan hamil tua. Tempat tinggal pertama WONMALY di Pulau Serua bernama PUA dan letak lokasi ini terlalu dekat dengan pesisir, WONMALY merasa tidak terlalu aman tinggal sendirian dalam keadaan hamil besar di tempat tersebut maka WONMALY ke tempat bernama PINAWURA di tempat yang agak tinggi (bukit) , di tempat itulah WONMALY melahirkan anaknya kemudian anak itu diberi nama RETEUW sesuai dengan nama ayahnya suaminya WONMALY yang di tinggalkanya di Pulau Dai.
Karena di Pulau Serua hanya tinggal WONMALY dengan anaknya RETEUW maka untuk melanjutkan keturunya WONMALY terpaksa harus kawin dengan anaknya sendiri RETEUW. Dari hasil perkawinan itu lahirlah 4 orang anak yaitu : TOMRILA, TOMROSA, SAKNILA, MATUPA dalam sejarah tidak menyebutkan anak-anak peremuan, untuk. Anak-anak ini bertumbuh menjadi besar, pada suatu hari keempat saudara ini ada dalam suatu perundingan (musyawarah), kedengaran suara dari dua ekor binatang yaitu Kambing dan Teko. Maka terbentuklah bahasa daerah mereka (bahasa Serua) yang diambil dari kata bintang tersebut yaitu ‘me dan tako’ ini terbukti dalam bahasa daerah Serua selalu ada dua kata tersebut.
Bertambah banyak keturunan WONMALY yang hasil kawin mengawin di antara mereka, dan suara keributan pun semakin besar, itu membuat WONMALY takut dengan kenyaman dan keamanan anak cucunya maka WONMALY kembali membawa keturanya untuk tinggalkan PINAWURA dan mereka ke tempat yang lebih jauh dari pesisir pantai menuju gunung agar lebih aman, mereka akhirnya menempati suatu tempat yang bernama SARAPOI. Disinilah WONMALY bersama anak cucunya tinggal dan bertambah banyak dan terbentuklah sebuah negeri.
Selanjutnya NIRA WATROU yang datang dari Pulau Banda (lontor) dan mendiami suatu tempat yang bernama LAREI, mereka menganggap bahwa pulau tersebut tidak ada penghuninya, suatu malam mereka ke laut untuk menangkap ikan sementara di laut terlihat titik api di gunung. Keesokan harinya mereka sepakat untuk mencari titik api tersebut, mereka berjalan mencari titik api yang lihat pada waktu malam dengan membawa 2 ekor anjing yang bernama : WANASTEKA dan ALASPORU. Pada pencarian tersebut mereka tidak menemukan siapa-siapa. Pencarian pada hari kedua Anjing WANASTEKA dan ALASPORU menemukan tempat tinggal WONMALY bersama anak cucunya di SARAPOI , WANASTEKA dan ALASPORU kemabali ke tuanya NIRA WATROU dengan tanda di tubuh kedua anjing tersebut yaitu berupa ampas sekam jagung dan ludah merah bekas semburan sirih pinang yang dimakan oleh WONMALY dan anak cucunya. Barulah mereka yakin bahwa di pulau tersebut ada orang. Keesokannya lagi mereka pergi menemui WONMALY bersama anak cucunya di SARAPOI yang menjadi petunjuk jalan bagi mereka adalah kedua anjing tersebut WANASTEKA dan ALASPORU . WONMALY bersama anak cucunya dipanggil untuk diajak bicara, tetapi mereka malu karena tidak menggunakan pakaian, laki-laki menggunakan LENA dan perempuan UREI hanya untuk menutupi aurat mereka, LENA dan UREI ini terbuat dari kulit kayu. Kemudian mereka melemparkan sehelai kain buat RETEUW untuk menutup badannya. Mereka mengajak RETEUW dan anak cucunya ke tempat yang bernama WATUNLISRI untuk membagi pakain. Pembagaian pakain oleh NIRA WATROUW tidak mencukupi bagi RETEUW, WONMALY dan anak cucunya. Yang mendapat pembagian pakaian di ajak lagi ke suatu tempat yang bernama SALTY. Yang belum kebagian pakaian mereka disuruh menunggu, ternyata anak cucu yang malu dengan keadaan mereka yang tidak berpaiakayan tidak menunggu lagi, mereka menghilang dengan mengumandangkan sebuah lagu : “Nitwurnina nsai lole Ayeru ntutru, Ayeru ntitru poli-poli nia nensa ne (2x)”.
Dengan bertempat di SALTY maka di adakan pembagian pulau untuk Nira Watrou (Lesluru) dan WURSIA WARLARU (Jerili) adapaun pembagiannya sebagai berikut :
1. Trana dari Watmermera sampai Watlului
2. Lesluru dari WATSURLELI sampai WATLULUI
3. Jerili dari WASURLELI sampai SIWREANRERNA
4. Waru dari SIWREANRERNA sampai WATLULUI
Setelah itu RETEUW WONMALY dan anak cucunya turun lagi dan menempati sebuah tempat yang namanya TRANA, yang artinya TERANG dan dalam arti bahasa Serua disebut Selatan . Di tempat ini di terjadi pembagian mutu menjadi dua mutu besar yakni ; TRANTENTA dan OSINITWURNA, TRANTENTA berkedudukan di TATANRASTA serta OSINITWURNA berada di bagian bawah. Sejarah tidak pernah menyebutkan hari, tanggal, bulan dan tahun terbentuknya Negeri ini.
Dapat disimpulkan bahwa terbentuknya Pemerintah Negeri Trana secara sah yaitu pada tanggal 14 Desember 1951 dengan dilantiknya FREDERIK NIKLEREK sebagai pemimpin masyarakat negeri Trana oleh NICOLAAS JOHANE VAN DEN BRANDHOF (Residen In Amboina) dengan gelar “Orang Kaya” (Ongka/Raja).
Pada tanggal 12 Bulan Maret Tahun 1978 kecamatan Teon Nila Serua dan seluruh penduduk negerinya dievakuasi ke Pulau Seram tepatnya SD Negeri 1 Masohi selama 3 bulan , kemudian pada tanggal 18 Juni 1978 masyarakat TNS juga masyarakat Negeri Trana di desa Makariki kecamatan Amahai kabupaten Maluku Tengah sebagai Lokasi Sementara. Evakuasi ini dilakukan karena pertimbangan keamanan akibat diperkirakan oleh pemerintah bahwa akan terjadi gempa bumi. Pada tanggal 8 November tahun 1980 Waipia disiapkan oleh pemerintah daerah sebagai suatu tempat tinggal tetap bagi seluruh masyarakat Teon Nila Serua, dan pada saat itu seluruh penduduk negeri Trana berpindah dari lokasi evakuasi sementara Makariki menuju ke Waipia. Di Tempat inilah masyarakat Negeri Trana hidup dan beradu nasib di tempat yang baru ini (Waipia),
Adapun nama-nama Kepala Desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut :
susunan kepala pemerintah negeri trana
1. FREDERIK NIKLEREK (RAJA) 14 DESEMBER 1915 – 18 JUNI 1936
2. LAMBERT NIKLEREK (RAJA) 18 JUNI 1936-31 DESEMBER 1974
3. MELIANUS WONMALY (RAJA) 31 DESEMBER 1979 – TAHUN 1992
4. LUIS PAULA (PEJABAT PEMERINTAH NEGERI) 1992 – 1994
5. IZAK JASSO (KEPALA DESA) 06 OKTOBER 1994 – 24 JUNI 2003
6. STEVANUS JASSO (RAJA) 24 JUNI – 30 OKTOBER 2009
7. LUIS PAULA (PEJABAT PEMERINTAH NEGERI) 30 OKTOBER 2009 – 15 JUNI 2016
8. Drs. ARYOST PATTIPEILOHY, M. SI (PEJABAT PEMERINTAH NEGERI) 15 JUNI 2016 - 03 APRIL 2020
9. RUDI KAILOLLA S. Sos (PEJABAT PEMERINTAH NEGERI) 04 APRIL 2020- 27 JULI 2023
10. PETRUS WONMALY (RAJA) 27 JULI 2023-
Demikian asal usul Pemerintah Negeri Trana, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.
Secara Georgrafis termasuk dalam wilayah kecamatan Teon Nila Serua Kabupaten Maluku Tengah terletak pada arah Utara Kota Kabupaten Maluku Tengah dengan jarak 6 KM dari Kantor Kecamatan, jarak Negeri dari Kantor Bupati Kabupaten Maluku Tengah sekitar 25 Km. Waktu tempuh menuju Pusat Kota Kecamatan sekitar 15 menit, sedangkan waktu tempuh menuju Ibu Kota Kabupaten kurang lebih 1 jam. Negeri Trana terdiri dari 4 RT dengan luas wilayah Negeri Trana adalah 2550 M2 (255 Ha) dengan batas-batas Negeri sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Negeri lesluru
- Sebelah Selatan : Dusun Ralmilda
- Sebelah Barat : Negeri Watludan
- Sebelah Timur : Negeri Jerili
website ini berbasis aplikasi sistem informasi desa (sid) dan memilika hak cipta yang dilindungi oleh undang - undang negara republik indonesia. jika masyarakat membutuhkan bantuan dapat menghubungi kami via :
negeritrana3@gmail.com
+62 821 9853 1009